Sebuah Pelajaran Yang Sederhana
Hallo pembaca, udah lama banget gue vakum dari blog karena kesibukkan sehari-hari. Kali ini tulisan gue bertemakan kesederhanaan. Sederhana? apa si sederhana itu? pasti kalian bakal pikir kalau sederhana itu adalah sesuatu yang simple dan apa adanya. Kalau menurut kamus wikipedia, sederhana itu adalah sesuatu yang tidak berlebih-lebihan. Oke kalian bisa cek sendiri di internet. Gue disini mau cerita tentang pengalaman gue yang menurut gue itu menarik dan menyenangkan. Pengalaman ini sebenernya udah dari beberapa tahun lalu cuma bagi gue ini adalah suatu cerita yang paling berkesan dalam hidup gue.
Jadi, beberapa tahun lalu sekitar kira-kira 2 tahun lalu tepatnya di tahun 2016 ketika gue masih duduk di bangku SMA. Gue mengikuti salah satu kegiatan sekolah yang paling di jauhin dari semua murid di sekolah. OSIS (Organisasi Intra Sekolah) entah kenapa banyak siswa yang berfikiran kalau OSIS itu adalah pembokat alias pembantu sekolah yang kerjanya cuma disuruh-suruh sama guru dan tipikal anaknya pasti berwajah depresi karena kecapean ngurusin semua kegiatan sekolah. But, menurut gue engga sama sekali. Bagi gue mengikuti organisasi OSIS di sekolah merupakan hal yang paling terseru dan berkesan dalam hidup gue. Banyak pengalaman dan cerita yang bisa lo ambil kalo lo ikut organisasi ini. Kebanyakan orang bilang organisasi ini terkesan monoton dan kalau mengadakan kegiatan ya engga jauh-jauh dari ruang lingkup sekolah aja. Tapi, OSIS di sekolah gue berbeda sangat amat jauh dari OSIS sekolah lain. Salah satunya kegiatan yang pernah OSIS gue adain yaitu OSJAR (Osis Berpijar) yak itu adalah salah satu program kerja dari organisasi gue. Osjar ini adalah salah satu program Mengabdi Untuk Negeri yang dimana banyak banget pengalaman yang sebelumnya belum pernah gue alami. Gue dan teman-teman organisasi gue mendapatkan kesempatan berkunjung ke salah satu desa terpenci di Indonesia walaupun letaknya ga begitu jauh dari sudut ibu kota tapi menurut gue desa ini jarang banget dikunjungi turis karena letaknya yang lumayan jauh dari perkotaan.
Desa Cinagara, Sukabumi Jawa Barat letaknya. Dari Jakarta gue dan teman-teman organisasi menempuh waktu sekitar 2 jam lebih untuk menuju desa tempat tujuan kami. Tentunya gue dan yang lainnya tidak menggunakan mobil mewah atau bus wisata seperti pada umumnya. Karena ini bukan wisata atau traveller. Gue dan yang lainnya memilih menggunakan tronton TNI yang sekiranya begini lah bentuknya kalau kalian belum tahu.
Ini adalah foto ketika gue dan yang lainnya sampai di Desa Cinagara. Perjalanan kita tidak sampe disitu aja, kita semua harus berjalan lagi menuju lokasi tempat dimana desa yang akan kita kunjungi sekaligus tempat menginap kita untuk beberapa hari kedepan dan harus menempuh jarah sekitar 5 km. Kita semua lagi-lagi tidak menggunakan kendaraan umum atau semacamnya untuk menempuh perjalanan ke desa yang akan kita tuju. Kita semua berjalan kaki dengan membawa barang-barang berat yang akan kita butuhkan untuk kegiatan beberapa hari kedepan. Rasa kekeluargaan dan gotong royong begitu terasa disini. Kita semua berbagi tugas disini, beberapa anak ada yang membantu membawakan barang-barang dan sisanya untuk survei tempat untuk kegiatan kita besok harinya. Kebetulan gue kebagian untuk survei tempat kegiatan kita besok. Jaraknya ga lebih jauh dari lokasi kita sampai tadi tapi, kalau di tempuh dari desa tempat gue menginap jaraknya kurang lebih ada 10 km dan itu di tempuh dengan jalan santai alias jalan kaki dan yang lebih serunya lagi jalanan disini bukan seperti jalanan di Jakarta. Jalanan perbukitan ya naik turun kayak rollcoaster tapi have fun si karena di setiap jalan gue disuguhkan dengan ciptaan Allah Swt yang paling indah. Suasana pedesaan disini bener-bener berasa banget dan melihat keceriaan dari para penduduk yang lalu lalang melakukan aktivitas pagi hari sangat lah membuat gue ikut bahagia sambil menghirup udara segar.
Setelah gue survei dan membahas roundown acara yang akan dilaksanakan, keesokkan harinya gue harus bergegas bangun di pagi buta dan berpakaian layaknya seorang guru. Yap, kegiatan gue di first day adalah mengabdi untuk negeri. Gue diberikan kesempatan untuk mencoba pengalaman baru untuk menggantikan posisi guru anak-anak di SD Cinagara saat itu. Menjadi pengajar muda adalah kali pertama gue lakuin. Di sini lah pengalaman yang paling berkesan banget untuk gue. Melihat anak-anak dari desa yang sangat cerita tanpa mengenal kata ngantuk, mereka harus terbangun dari mimpi indahnya di malam hari untuk mengejar cita-cita dan mimpi mereka ke sekolah. Hari masih gelap dan udara di desa itu memang sangat dingin, gue dan yang lainnya haru berjalan dari tempat kita menginap yang letaknya adalah di tengah-tengah lembah gunung dan pertengahan sawah. Gue dan yang lainnya berjalan di antara lumpur basah dan sepanjang perjalanan gue bertemu anak-anak lucu yang berjalan bersama-sama untuk menjemput mimpi mereka di sekolah. Melihat senyum mereka di pagi hari dan semangat mereka tanpa kenal mengeluh membuat hati gue tersentuh. Dulu ketika gue masih SD untuk bangun pagi aja rasanya berat banget dan males banget pasti nyokap gue yang selalu membangunkan gue setiap pagi. Tapi mereka rela berjalan dan menempuh berkilo-kilo meter demi ke sekolah. Gue sangat amat salut dengan perjuangan mereka. Ketika sampai di sekolah kata lelah pun tak pernah terdengar di telinga gue. Mereka dengan wajah bahagia duduk dengan manis dengan buku mereka untuk menyambut pelajaran yang akan mereka pelajari hari itu. Lagi-lagi gue merasa minder dengan mereka yang terkadang gue pun suka mengeluh karena pelajaran di sekolah atau karena gurunya yang menyebalkan yang kadang bikin gue badmood duluan. Apa lagi kalau mau menjelang ulangan rasanya jantung udah mau lepas dan pengen cepet-cepet kabur dari sekolah. Mereka gapernah mengeluh walaupun fasilitas dan kondisi sekolah dan kelas mereka yang sebenarnya jauh dari kata layak. Keadaan meja yang sudah tua dan hampir patah, genting yang berlubang dan dinding tua yang hampir rubuh bahkan bukan menjadi alasan mereka untuk tetap semangat belajar. Lagi-lagi hati gue tersentuh disini, kadang gue masih merasa kurang bersyukur dengan apapun bahkan segala fasilitas yang ada yang pernah gue rasain di sekolah gue terkadang gue masih banyak mengeluh dan suka ngedumel karena fasilitas yang sudah diberikan sekolah yang seharusnya bisa gue gunain dengan sebaik-baiknya.
Tapi berbeda dengan anak-anak di sekolah ini. Mereka dengan senang hati menyambut guru mereka yang akan memberikan pelajaran untuk mereka. Dengan berbekal buku tulis seadanya dan tampak lusuh mereka tetap menyimak setiap pelajaran yang gue berikan untuk mereka saat itu. Salah satu murid yang paling membuat gue merasa kalau gue itu ga ada apa-apanya dibandingkan mereka. Namanya Adam, salah satu murid kesayangan gue yang lucu banget dan super aktif. Dia ini terbilang pintar kalau di kelas menurut gue dan aktif banget bertanya di kelas. Salah satu pertanyaan yang pernah dia tanyakan ke gue adalah tentang Jakarta. Saat gue pertama kali memperkenalkan diri gue ke mereka gue bilang gue berasal dari Jakarta. Adam bertanya dan menurut gue pertanyaan itu sangat bagus untuk murid kelas 1 SD seperti Adam. "Apa Jakarta itu indah kak ?" dan gue pun menjawab pertanyaan itu. "Jakarta itu sangat amat indah adam, banyak gedung besar berdiri disana dan banyak tempat bermain yang indah disana tapi untuk mendapatkan keindahan itu semua kamu harus berusaha keras Adam." Mungkin jawaban seperti itu belum sepenuh di cerna oleh murid SD seusia Adam dan gue berharap suatu saat nanti dia akan mengerti maksud dari ucapan gue itu.
Lagi-lagi keceriaan mereka dan semangat mereka tidak pernah luntur sampai matahari terbenam. Hari sudah mulai larut, kalau di Jakarta bagi anak-anak seumuran mereka pasti sudah memeluk tempat tidurnya dan bermimpi indah. Tapi tidak dengan mereka, kegiatan malam dan di temani dengan suasana malam hari yang dingin tidak mematahkan semangat mereka untuk terus belajar. Kegiatan religi adalah salah satu kegiatan rutin yang mereka pilih selepas pulang sekolah. Mereka berbondong-bondong melewati jalan yang berbeda dengan semangat yang sama menempuh masjid yang letaknya tidak jauh dari tempat gue menginap. Masjid itu ada di tengah-tengah rumah penduduk yang adanya di bawah lembah pegunungan. Mereka berjalan bersama dengan lampu senter dan semacam obor kecil mengarungi jembatan besar yang gelap dan kuburan yang sangat menyeramkan kalau gue sendiri yang berjalan. Tapi lagi-lagi rasa takut bukan lah alasan dan mereka tetap melewatinya demi mendapatkan bekal ilmu agama yang kelak akan berguna bagi hidup dan masa depan mereka. Pengalaman baru pun kita rasakan disana. Menjadi pengajar muda, mengajarkan mereka bekal agama dan mengaji adalah lagi-lagi hal pertama yang pernah gue lakukan. Menceritakan mereka cerita-cerita islami menurut gue adalah hal yang menyenangkan. Dari mereka gue pun banyak pelajaran yang gue ambil kalau agama itu adalah pandangan hidup gue yang harus gue pegang semasa hidup gue dan tanpa agama gue pun bukan apa-apa dan ibadah adalah tiang agama gue, tanpa ibadah hidup gue tidak akan terarah. Gue bangga melihat anak-anak seperti mereka dan di umur mereka yang terbilang masih cukup kecil dan seharusnya mereka lebih mementingkan waktu bermainnya ketimbang untuk memperdalam ilmu agama.
Perjalanan gue pun tidak sampai disitu aja. Masih banyak pelajaran yang gue dapetin disini. Setelah program kerja pun akhirnya selesai di hari berikutnya gue dan anggota organisasi lainnya mendapatkan sebuah kejutan dari pembina OSIS karena sudah menjalankan program kerja dengan baik. Gue disini berfikir apa hadiahnya berupa benda or penghargaan or something. Pagi buta pun kita semua dibangunkan dan bersiap untuk senam pagi. Berikutnya setelah senam pagi kita semua dibagikan plastik sampah dan disitu gue dan yang lainnya disuruh berjalan melewati jalanan kecil di persawahan di antara pegunungan besar sambil memungguti sampah-sampah yang tergeletak. Dari hal kecil itu pun gue dapet pelajaran lagi. Dimana pun kamu berada kamu harus tetap menjaga kebersihan karena kebersihan adalah sebagian dari iman dan mengaja keindahan alam itu adalah kewajiban kamu sebagai manusia, jangan sampai alammu rusak hanya karena tangan-tangan usisl yang menganggunya.
Kami terus berjalan melewati sungai mulai dari yang paling terkecil hingga yang terbesar. Lagi-lagi gue harus mengeluarkan tenanga ekstra untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Ini lagi kali pertamanya gue dalam hidup. Melewati hutan-hutan yang gabisa terbesit di otak gue sebelumnya. Ketemu sama binatang-binatang yang sebelumnya cuma bisa gue liat di ragunan alias zoo. Tempat tujuan gue adalah air terjun. Walaupun kedengarannya biasa tapi hal yang menarik yang gue ambil adalah proses gue menuju air terjun itu. Segala rintangan yang ada di depan mata lo harus dan mau tidak mau berat atau ringan harus lo lalui demi mencapai sebuah tujuan dan impian yang lo capai dan untuk mendapatkan semuanya itu ga mudah, butuh sebuah proses panjang yang harus lo laluin. Hingga akhirnya sampai lah gue di air terjun itu. Lelahnya perjuangan gue selama ini terbayarkan.
Dan dari itu semua banyak pelajaran sederhana yang gue ambil. Kalau hidup itu sebenarnya tidak mudah dan tidak seindah drama-drama korea. Bermimpi itu indah dan untuk meraih mimpi itu lo butuh sebuah perjuangan dan proses yang panjang. Kalau lo ngga sanggup menjalani itu semua lo akan kehilangan semua mimpi-mimpi lo dan hanya jadi angan-angan semata. Lo juga harus bersabar, terus berusaha, terus semangat dan selalu berdoa supaya mimpi yang selama ini lo bayangkan bisa terwujud nyata.















Komentar
Posting Komentar